Wednesday, August 12, 2009

SPIRITUALISING POLITICS

0 comments
I must admit, I was kinda in the inner circle of party politics several years ago until the previous GE11 when I decided to take it slow. Yet, I have been following the currently heaty political situation in our beloved country albeit with a pinch of concern. There seems much more of tongue-lashing nowadays, and people's emotions are being unnecessarily riled up. It wasn't as bad last time.

I know, some people might say politics is dirty, nothing is impossible in politics, or one can't take what politicians say to each other seriously. There's nothing to be so unduly concerned about.

Just that, I am worried because to me politics like what we are experiencing today has been much IQ and EQ, but zilch when it comes to SQ.

Yes, there are many muslim politicians in Malaysia. Many performs prayers without fail, fast in Ramadhan, pay tithes, go to Mekah for Hajj or Umrah - and many appear to champion Islamic issues. But spirituality does not mean just being rituous or defending against onslaughts to Islam in naivety.

I must qualify the above statement; there are actually politicians who are ritually disciplined and spiritually uplifted most of the time. Really though, they are an exception rather than a norm.

From my own experience, a seemingly religious person may actually be weak spiritually. One may have the "5" (Islam) and seemingly the "6" (Iman), but not necessarily the "1" (Ihsan). Prior to being introduced to ESQ 165 Training, I myself time and again forgot that Allah SWT my Creator Notices me all the time without fail.

Back to the politics.

Apparently politicians here (and elsewhere, but I am referring here to the Malaysian political scene) seem to be spiritually weak. I am particularly worried about muslim politicians most of whom carry the brand "perjuangan bangsa dan agama", because to the non-muslims they reflect what Islam and Islamic leadership is about.

Many unfortunately subscribe to nasty rules in engaging the "other side". Character-assassinate, look straight into the camera and angelically deny/ make accusations, never apologise even if you are proven mistaken, sow hatredness, jack up people's anger towards the opponents, be defensive by being offensive, are but a few so-called rules of political survival. The number of politicians who subscribe to these "principles" grow by leaps and bounds over the years.

Tellingly, people become more confused and deeply divided because of the way politics is being gamed in Malaysia today. Authorities seem to be out-of-control. Political mudslingings seem unending in parliament sittings, blogs and mainstream media, even within the same political divides. We hear smartly veiled racial undertones being used regularly. We are in danger of losing our civilisation and I blame the politicians for it, not because of their low IQ but because of their low SQ.

More genuinely worrying matters - such as the economic downturn in which thousands of jobs are lost and wealth are shrinking rapidly, social and safety erosions in which criminal/ illegal activities are at an all-time alarming figures, public health deterioration in which hundreds of lives were lost due to swine flu (H1N1) pandemic and dengue epidemic - seem to take a part-time role these days because politicians' seem to lose the nobleness and spirituality in their political pursuits.

If many politicians are weak spiritually and politics is handled with just intellectual and emotional capacity, what looms ahead is disaster. When SQ is low, politicians save the stronger ones might lack self-control and might easily become manipulative or manipulated.

The terms "answerable to the people" becomes a cliche because they know that all people - not just malays - forget after a while; that's human nature. (Humans are called "an-nas" in the Qor'an because "nas-iya" in Arabic means "being forgetful").

People in Malaysia are experiencing such political manipulations as we blog. Emotions run high on sensitive issues, many eventually die off after plenty of laypeople's energy wasted. Corruption becomes second nature. Lies and deceits are considered the norms. No amount of human laws, regulations and enforcement can safeguard such haywiredness.

To create a model civilisation coming out of our very own Malaysia, politics here must be redefined. The three elements of IQ, EQ and SQ must go hand-in-hand for every politician, muslims or non-muslims. Furthermore, SQ must be the central point of the three.

A spiritually-uplifted politician will become a strong leader for the nation, because he continuously is self-reminded of his intention in politics. He would tie everything he or she does "horizontally" to his or her "vertical" relationship.

The existence of spiritually-uplifted politicians of an overwhelming size will create a healthier political climate for Malaysia. When leaders truly realise that the Creator of the Universe is watching their slightest of actions, they become more wary before doing or saying something, whether in public or in private.

People become more informed, and political maturity can be seen in our society. If decision-makers and policy-makers know their spiritual standing, they would not hesitate to toe party lines if necessary for the sake of the people. They would prefer to listen to understand rather than become confrontational. They would ask their supporters to not become highly emotional. With all these scenarios, I am confident problems can be solved more effectively.

I wish one day all political leaders from both political divides will become ESQ alumni, experiencing character building through a spiritual upliftment journey led by Pak Ary Ginanjar and his able trainers, and recharging regularly.

It's actually one of the top items in my wishlist. :-)

Saturday, August 1, 2009

ISA - Yang Zalim dan Yang Jahil

0 comments
(in Bahasa)

Sekiranya masih ujud masa itu, Akta Keselamatan Dalam Negeri atau ISA akan berusia 50 tahun tepat 1 Ogos tahun depan.

Semua orang faham apa itu ISA. Ia merupakan akta cedokan British yang membolehkan polis menahan seseorang yang didapati mampu menggugat keselamatan negara, dalam tempoh tidak lebih 60 hari. Sekiranya didapati perlu, Menteri Dalam Negeri boleh menahan lanjut orang itu selama 2 tahun di kem tahanan khas, dan tempoh itu boleh dilanjutkan tanpa had. Mengikut statistik, terdapat 10 orang yang masih ditahan di Kem Tahanan (Kemta) Kamunting Perak. Ada yang sudah berada di Kemta hampir 7 tahun!



Hari ini selepas Zohor, ribuan 'meraikan' harijadi ISA dengan berarak di jalanraya KL untuk menyuarakan bantahan terhadap akta tersebut. Polis sejak malam tadi mengadakan sekatan jalanraya masuk ke KL dibantu FRU yang berada di beberapa lokasi demonstrasi sejak awal pagi. Ada saksi yang mendakwa melihat beberapa pemimpin demonstrasi dipukul. Ratusan ditangkap.
Rakyat Malaysia masih berbelah bagi samada ISA patut diteruskan atau ditamatkan. Bukan sebab jahil tetapi sebab keliru di antara niat dan pelaksanaan.
Adalah ISA itu satu undang-undang yang zalim mengikut perspektif 165? Adakah ianya perlu? how165areyou ingin mengupas persoalan ini secara JUJUR.

Prinsip atau rukun iman yang enam antaranya adalah beriman kepada KitabNya. Dalam Al-Qoran, Allah SWT telah menggariskan pelbagai peraturan feqah, muamalat dan syariat yang menjadi hukum Islam. Kesemuanya bertujuan membimbing orang yang beriman kaedah menjalin hubungan dengan Allah SWT dan juga sesama manusia.
Satu atribut hukum Islam adalah konsep keadilan sejagat. "Maka berlaku adillah kamu. Itu lebih dekat dengan takwa." (al-Qoran)

Pernah diriwayatkan dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita yang mengaku berzina. Bagaimanapun Rasulullah SAW menangguhkan hukuman hudud terhadapnya sehinggalah wanita itu selesai menyusukan bayi yang lahir hasil hubungan zina tersebut.

Untuk hubungan sesama manusia, kita dibolehkan mengadakan peraturan sendiri. "Kamu lebih mengetahui urusan duniamu". (Hadith Sahih)
Namun, mana-mana peraturan kontemporari ciptaan manusia perlu konsisten dengan Al-Qoran dan Sunnah, walau seberapa sofistikatednya pemerintahan zaman moden. Sekiranya didapati terdapat elemen ketidakadilan, maka peraturan atau undang-undang ciptaan manusia perlu dibuat alignment atau penjajaran, iaiatu diubahsuai atau dimansuhkan terus.

ISA bertujuan menjaga keselamatan negara. Niat menjaga keselamatan negara memang niat yang baik, malah menjadi TANGGUNGJAWAB pemerintah. Setiap amal mesti dimulakan dengan niat; bagaimanapun, niat tidak menghalalkan cara. Seorang ayah yang ingin memberi anak-anaknya makan diharamkan mencuri walaupun tujuan yang murni.

ISA datangnya daripada pemikiran barat, lalu seharusnya dianalisa dengan minda yang kritis dan dengan hati yang tulus. Tidak sepatutnya ada pertimbangan politik dalam menganalisa ISA.
Dalam analisa terhadap ISA, didapati terdapat elemen ADIL dan PRIHATIN yang longgar.

Dari segi prinsip keadilan, ISA didapati boleh disalahguna untuk menindas manusia. Ketidakadilan ISA terdapat dalam aspek kelemahannya mengiktiraf hak asasi manusia. Al-Qoran mengiktiraf hak asasi manusia, antaranya "Tidak ada paksaan dalam ad-deen" dan "Bagi kamu agama kamu, bagi aku agamaku". (Al-Qoran)


ISA menjadi bahaya kerana ia:-
- mampu menjadi alat yang mudah disalahguna untuk menakut-nakutkan.
- mampu menjadi alat memaksakan sesuatu ideologi.
- membawa konotasi sudah dihukum bersalah kerana tiada ruang mempertahankan diri.
- memberi lesen memperlakukan manusia seumpama tiada harga diri, kadangkala seperti binatang.

Sedangkan, manusia tidak kira apa bangsa, agama dan strata perlu diberikan ruang untuk menyuarakan pendapat, menjadi pemimpin masyarakat, berbeza pandangan, berpersatuan, mengundi, beragama dan sebagainya. Selagi ianya dilakukan secara aman dengan tidak pula menindas atau mengambil hak asasi orang lain.

Dari segi pelaksanaan pula, ketidakprihatinan ISA terbit apabila pihak yang diberikan kuasa menangkap tanpa sebab menggunakan peruntukan akta untuk menekan tahanan.

Dalamasa 60 hari pertama ISA,

- tahanan tiada akses kepada peguam dan ahli keluarga.
- Lokasi penahanan dirahsiakan.
- terdapat insiden penyeksaan fizikal dan mental, serta ugutan dalam soalsiasat supaya tahanan membuat pengakuan (mengikut testimoni).

Selepas 60 hari (di Kemta),

- seolah-olah sudah dijatuhi bersalah, tanpa pertuduhan yang jelas melalui proses mahkamah
- tiada kebajikan untuk ahli keluarga
- tempoh 2 tahun hanyalah gimik dan boleh diperbaharui sesuka hati
- terdapat insiden penyeksaan fizikal dan mental seperti di atas

Maka dari sudut prinsip dan pelaksanaannya, ISA sarat dengan atribut negatif iaitu tidak ADIL dan tidak PRIHATIN. Selain itu, penggunaan ISA selama hampir 50 tahun ini ketandusan DISIPLIN atau kaedah tertentu kerana kebanyakan suspek sebenarnya boleh dibawa ke muka pengadilan menggunakan undang-undang lain seperti Kanun Keseksaan, Akta Pencegahan Rasuah dan Akta Imigresen.
Dari sudut spiritual, kita yang masih teragak-agak harus bertanya dengan hati yang ihsan ini, yang sedar Allah SWT melihat tingkah perbuatan kita setiap masa dengan soalan-soalan seperti berikut:-
- Bolehkah seorang mengambil hak orang lain?
- Bolehkah seorang memperlakukan manusia lain seperti haiwan? Sedangkan Islam menyeru kita berbuat ihsan bukan sahaja hablu minnannas tetapi dengan haiwan dan tumbuhan.
- Inginkah kita berada dalam situasi isteri, suami atau anak dilokap selama bertahun-tahun tanpa kita tahu apa tuduhannya?
Maka pandangan saya berlandaskan 165, ISA dan segala kepincangan berkaitan ISA adalah tidak perlu! Lebih-lebih lagi jika terdapat ramai rakyat yang tidak selesa dengannya. Dengan tiadanya akta sedemikian, hasrat Malaysia ingin menjadi negara Islam model - di mana di dalam pentadbirannya aspek keadilan diberi perhatian berat - dapat diteruskan.
Maka, saranan beberapa pihak kepada Majlis Fatwa Kebangsaan agar mengeluarkan fatwa tentang ISA ini adalah satu idea yang baik dan wajar disegerakan.